Barisan pondok penambang pasir Zircon di Sungai Murui Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Ribuan penambang emas dan pasir zircon terpantau beraktivitas di sepanjang Sungai Murui Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas. Hal itu berakibat kerusakan lingkungan dan dampak paling nyata yakni pendangkalan sungai dan tercemarnya air. Saat menyusuri Sungai Murui dari Desa Batu ke Desa Gerung menggunakan perahu bermesin bersama Kapolres dan jajaran perwira di Polres Kapuas, di sepanjang perjalanan terlihat ratusan pondok milik penambang. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan jejeran pondok dan perkampungan kecil penambang terpantau cukup banyak dan diperkirakan jumlahnya mendekati seribuan. Menariknya, saat tim melintas, hanya di beberapa saja yang terpantau melakukan aktivitas penambangan. Hal itu kemungkinan karena para penambang sudah mengetahui rombongan akan melintas di wilayah hukum Polsek Mantangai itu. Atas fakta itu, Polres Kapuas berencana untuk menyusun langkah tindak lanjut human...
Saat berkunjung ke Kota Solo, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan menyaksikan pertunjukan wayang orang. Kesenian yang sudah berusia lebih dari 300 tahun ini, rutin dipentaskan di Gedung Sariwedari Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kesenian yang konon berasal dari Kerajaan Mataram dan diciptakan oleh Sultan Amangkurat I, pada tahun 1731 ini, dipentaskan tiap Senin dan Sabtu malam. Untuk meyaksikannya, cukup dengan mengeluarkan kocek Rp3.000. Cerita yang dibawakan beragam dan selalu berbeda-beda. Namun yang pasti, kisah pewayangan ini, didasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata, serta cerita yang hidup di masyarakat Solo. Karena pementasan menggunakan bahasa Jawa khas Solo yang dikenal amat halus dalam tutur katanya, bagi penonton dari luar, telah disediakan layar khusus. Disitu akan ditampilkan teks berbahasa Indonesia. Fasilitas yang ada di Gedung Kesenian di Jalan Jendral Slamet Riyadi Kota Surakarta ini juga cukup nyaman. Bahkam pengunjung tak perlu takut kepanasan ka...
Sebuah Mandau (senjata khas suku Dayak) dengan ganggang berbahan tulang hewan yang diikat dengan ayaman rotan bergerak-gerak persis seperti kompas. Hal diluar nalar ini terjadi saat seorang Basir (pendeta adat suku Dayak) sedang membacakan mantera dalam ritual manenung (bertanya tentang masa depan kepada leluhur). Peristiwa ini terjadi di Jalan Snar Kahayan Jaya Kelurahan Panarung Kota Palangka Raya. Bermula dari niat Sajie untuk menggelar ritual adat tiwah (upacara untuk mengantarkan roh keluarga ke surga suku Dayak) bagi kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Namun dia tak tahu lokasi yang tepat untuk mendirikan sandung (bangunan kecil berbentuk rumah untuk menyimpan kerangka manusia) atau menggelar ritual besar dan cukup sakral dalam kepercayaan kaharingan itu. Dia kemudian memanggil Tedjo, seorang Basir asal Desa Manen untuk melakukan adat manenung dirumahnya. Untuk melaksanakan ritual itu, keluarganya juga menyediakan daging ayam kampung, beras, telor dan sebagainya. Basir...